Selasa, 13 Desember 2011

Manusia dan Keindahan


TUGAS I
Manusia dan Keindahan
Keindahan
Pengertian Keindahan
Keindahan berasal dari kata indah, artinya bagus, permai, cantik, elok, molek dan sebagainya. Benda yang mempunyai sifat indah ialah segala hasil seni, (meskipun tidak semua hasil seni indahl, pemandangari alam (pantai, pegunungan, danau, bunga-bunga di lereng gunung), manusia (wajah, mata, bibir, hidung, rambut, kaki, tubuh), rumah (halaman, ta13nan, perabot rumah tangga dan sebagainya), suara, warna dan sebagainya. Keindahan adalah identik dengan kebenaran.
Menurut The Liang Gie dalam bukunya “G,a-ris Besar Estetik” (Filsafat Keindahan) dalam bahasa Inggris keindahan itu diterjemahkan dengan kata “beautiful”, Perancis “beau”, Italia dan Spanyol “bello”, kata-kata itu ber­asal dari- bahasa Latin “bellum”. Akar katanya adalah ”bonum” yang berarti kebaikan kemudian mempunyai bentuk pengecilan menjadi’ ”bonellum” dan terakhir dipendekkan sehingga ditulis “bellum”.
Selain itu menurut luasnya dibedakan pengertian:
1. Keindahan dalam arti luas.
Selanjutnya The Liang Gie menjelaskan.bahwa keindahan dalam arti luas mengandung pengertian ide kebaikan. Misalnya Plato menyebut watak yang indah dan hukum yang indah, sedangkan Aristoteles merumuskan keindahan sebagai sesuatu yang baik dan juga menyenangkan.
. Jadi pengertian yang seluas-Iuasnya meliputi :
· keindahan seni
· keindahan alam
· keindahan moral
· keindahan intelektual.
2. Keindahan dalam arti estetik murni.
Keindahan dalam arti estetik murni menyangkut pengalaman estetik seorang dalam hubungannya dellgan se:gala sesuatu yang diserapnya.
3. Keindahan dalam arti terbatas dalam hubungannya dengan penglihatan.
Keindahan dalam arti yang terbatas, me~punyai arti yang lebih disempitkan sehingga hanya menyangkut bendabenda yang dapat -diserap dengan penglihatan, yakni berupa keindahan bentuk dan warna. keindahan tersusun dari berbagai keselarasan dan kebalikan dari garis, warna, bentuk, nada, dan kata-kata. Ada pula yang berpendapat bahwa keindahan adalah suatu kumpulan hubungan-hubungan yang selaras dalam suatu benda dan di antara benda itu dengan si pengarnat.
B. Pengelompokan-pengelompokan pengerian keindahan
dilihat dari beberapa persepsi tentang keindahan berikut ini :
1. Keindahan adalah sesuatu yang rnendatangkan rasa menyenangkan bagi yang melihat (Tolstoy);
2. Keindahan adalah keseluruhan yang merupakan susunan yang teratur dari bagian-bagian yang saling berhubungan satu sarna lain, atau dengan keseluruhan itu sendiri. Atau, beauty is an order of parts in their manual relations and in their relation to the whole (Baumgarten).
3. Yang indah hanyalah yang baik. Jika belum baik ciptaan itu belurn indah. Keindahan harus dapat memupuk perasaan moral. Jadi ciptaan-ciptaan yang amoral tidak bisa dikatakan indah, karena tidak dapat digunakan untuk memupuk moral (Sulzer).
4. Keindahan dapat terlepas sarna sekali dari kebaikan (Winehelmann).
5. Yang indah adalah yang rnemiliki proporsi yang harmonis. Karena proporsi yang harrnonis itu nyata, maka keindahan itu dapat disamakan dengan kebaikan. Jadi, yang indah adalah nyata dan yang nyata adalah yang baik (Shaftesbury). .
6. Keindahan adalah sesuatu yang dapat mendatangkan rasa senang (Hume).
7. Yang indah adalah yang paling banyak mendatangkan rasa senang, dan itu adalah yang dalam waktu sesingkat-singkatnya paling banyak memberikan pengalaman yang menyenangkan (Hemsterhuis).
Dengan melihat demikian beragamanya pengertian keindahan, dan kita harus percaya bahwa yang di atas itu hanyalah sebagian kecil, boleh jadi akan rnengeeewakan kita yang menuntut adanya satu pengertian yang tunggal tapi yang memuaskan. Namun demikian, dari berbagai pengertian yang ada, sebenarnya, kita bisa menempatkannya dalam kelompok-kelompok pengertian tersendiri, Pengelompokan-pengelompokan yang bisa kita buat adalah sebagai berikut :


1. Pengelompokan pengertian keindahan berdasar pada titik pijak atau landasannya.
Dalam hal ini ada dua pengertian keindahan, yaitu yang bertumpu pada obyek dan subyek, Yang pertama, yaitu keindahan yang obyektif, adalah keindahan yang memang ada pada obyeknya sementara kita sebagaimana mestinya. Sedang yang kedua; yang disebut keindahan subyektif; adalah keindahan yang biasanya ditinjau dari segi subyek yang melihat dan menghayatinya. Di sini keindahan diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat menimbulkan rasa senang pada diri si penikmat dan penghayat (subyek) tanpa dicampuri keinginan-keinginan yang bersifat praktis, atau kebutuhan·kebutuhan pribadi si penghayat.
2. Pengelompokan pengertian keindahan dengan berdasar pada cakupannya.
Bertitik tolak dari landasan ini kita bisa membedakan antara keindahan sebagai kualitas abstrak dan keindalan sebagai sebuah bcnda tertentu yang memang indah. Perbedaan semacam ini lebih tampak, misalnya dalam penggunaan bahasa Inggris yang mengenalnya istilah beauty untuk keindahan yang pertama, dan istilah The Beautiful untuk pengertian yang kedua, yaitu benda atau hal·hal tertentu yang memang indah.
3. Pengelompokan pengertian keindahan berdasar luas-sempitnya.
Dalam pengelompokan ini kita bisa membedakan antara pengertian keindahan dalam arti luas, dalam arti estetik murni, dan dalam arti yang terbatas. Keindahan dalam arti luas, menurut The Liang Gie, mengandung gagasan tentang kebaikan. Untuk ini bisa dilihat misalnya dari pemikiran Plato, yang menyebut adanya watak yang indah dan hukum yang indah: Aristoteles yang melihat keindahan sebagai sesuatu yang baik dan juga menyenangkan
Dari apa yang dikemukakan di atas, ada hal bisa kita petik, yaitu: Pertama, keindahan menyangkut persoalan filsafati, sehingga jawaban terhadap apa itu keindahan sudah barang tentu bisa bermacam-macam. Kedua, keindahan sebagai pengertian mempunyai makna yang relatif, yaitu sangat tergantung kepada subyeknya.
Pengertian keindahan tidak hanya terbatas pada kenikmatan penglihatan semata-mata, tetapi sekaligus kenikmatan spiritual. Itulah sebabnya Al-Ghazali memasukkan nilai-nilai spiritual, moral dan agama sebagai unsur-unsur keindahan, di samping sudah . barang. tentu unsur-unsur yang lain.


Nilai Estetik dan Ekstrinsik

Dalam rangka teori umum tentang nilai The Liang Gie menjelaskan bahwa pengertian keindahan dianggap sebagai salah satu jenis nilai seperti halnya nilai moral, nilai ekonomik, nilai pendidikan dan sebagainya. Nilai yang berhubungan dengan segala sesuatu yang tercakup dalam pengertian keindahan disebut nilai estetik. Nilai adalah suatu realitas psikologis yang harus dibedakan secara tegas dari kegunaan, karena terdapat dalam jiwa manusia dan bukan pada bendanya itu sendiri. Nilai itu oleh orang dipercaya terdapat pada sesuatu benda sampai terbukti ketidakbenarannya.Dalam ”Dictionary of Sociology and Related Science” diberikan rumusan tentang nilai sebagai berikut :
‘”The believed Capacity of any object to saticgy a human desire. The Quality of any object which causes it be of interest to an individual or a group” (Kemampuan yang dianggap ada pada suatu benda yang dapat memuaskan keinginan manusia. Sifat dari suatu benda yang menarik minat seseorang atau suatu kelompok).
Tentang nilai ada yang membedakan antara nilai subyektif dan nilai obyektif. Atau ada yang membedakan nilai perseorangan dan nilai kemasyarakatan. Tetapi penggolongan yang penting adalah nilai instrinsik dan nilai ekstrinsik.
  • Nilai ekstrinsik adalah sifat baik dari suatu benda sebagai alat atau sarana untuk sesuatu hal lainnya (  instrumental/contributory) yakni nilai yang bersifat sebagai alat atau membantu.
  • Nilai instrinsik adalah sifat baik dari benda yang bersangkutan, atu sebagai sesuatu tujuan, atau demi  kepentingan benda itu sendiri. Sebagai contoh : Puisi : Bentuk puisi yang terdiri dari bahasa, diksi baris, sajak, irama, itu disebut nilai ekstrinsik, sedangkan pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca melalui (alat benda ) puisi itu disebut nilai instrinsik. Tarian damarwulan Minak Djinggo merupakan nilai ekstrinsik, sedangkan pesan yang ingin disampaikan oleh tarian itu ialah kebaikan melawan kejahatan merupakan nilai instrinsik.
Apa sebab manusia menciptakan keindahan ?
1. Tata nilai yang telah using.
2. Kemerosotan zaman.
3. Penderitaan Manusia.
4. Keagungan Tuhan.

sumber :

Kontemplasi dan Ekspansi
Kontemplasi
 Seringkali kita mendengar dan melihat orang-orang yang telah lama bertekun dalam doa, bertumbuh dalam pengenalan akan Allah yang mengasihi mereka, sudah mengalami kemajuan dan perkembangan dari meditasi diskursif sampai kepada tahap doa batin, tetapi mereka tidak pernah mengalami kontemplasi. Mereka tetap melanjutkan dalam doa batin, dan “menempatkan” diri mereka dalam kehadiran Allah, mencoba untuk tetap tinggal dengan sadar dalam kehadiran Allah dan terus-menerus berada dalam kegelapan dan tidak pernah menanggapinya. Padahal mereka dapat mencapai suatu bentuk doa yang sebenarnya lebih luhur sifatnya yaitu kontemplasi. Mereka percaya pengalaman itu ada, namun mereka tidak merasakannya. Singkat kata, mereka ini tidak pernah masuk dalam kontemplasi yang mereka rindukan, pengalaman “ditangkap” oleh Allah, yang dikuasai oleh-Nya, atau menjadi satu oleh-Nya karena kerinduan jiwa adalah untuk bersatu dengan Allah. Karena mereka berusaha untuk mencapai kontemplasi itu yang tidak jarang membawa mereka keluar pada hidup doa yang selama ini telah mereka lakukan.
Perlu diketahui secara teologi mistik perbedaan antara mengalami dan masuk dalam kontemplasi tidak diakui. Alasannya, kontemplasi bukanlah alasan-alasan yang diskursif atau menyangkut pemikiran-pemikiran dan penalaran belaka. Akan tetapi, kontemplasi merupakan:
Perhatian dan kerinduan dalam kenyataannya sudah dialami; tidak secara langsung dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi bersifat spekulatif, netral, dan membahagiakan memandang kepada kebenaran itu sendiri.
Kebenaran mungkin sama sekali tidak diketahui, tetapi bermacam-macam argumen tidak menghancurkan apa yang disebut dengan “kebenaran” itu. Misalnya, dalam sebuah formula matematika mungkin “dikontemplasikan” sebagai suatu keindahan dan keanggunan. Kebenaran yang ditunjukkan sebagai kecantikan yang dapat disadari dan dilihat dari lukisan Picasso yang berjudul ‘Guernica’ dengan penuh perhatian yang disebut sebagai “pengalaman estetis.” Pengalaman estetis ini diungkapkan pengamat seni dalam sebuah keadaan terus-menerus dari kebahagiaan yang tak terlukiskan. Kebenaran adalah keindahan yang menimbulkan kesenangan yang sama. Untuk merasakan keindahan dan mengalaminya sendiri, kadang-kadang kita dapat meneteskan air mata bukan karena sedih tetapi lebih pada keterharuan yang melingkupi hati kita. Misalnya, kita melihat sebuah pasangan suami-istri merayakan ulang tahun perkawinan mereka yang ke-60 dan mereka saling mengungkapkan kebahagiaan mereka dengan ciuman yang mesra.
Begitu halnya dengan kontemplasi. Kontemplasi sungguh-sungguh dapat dialami dengan penuh kerinduan, ketika kebenaran wahyu Allah dapat dirasakan. Akan tetapi hal ini lebih bersifat adikodrati karena kerinduan ini tercipta dari perwujudan diri-Nya. Untuk menyebut Allah itu sebagai “Bapa” dibutuhkan karunia dari-Nya, yaitu pengangkatan menjadi anak Allah. Ketika kita merasakan Dia, kita membutuhkan iman untuk percaya kepada-Nya, harapan dari janji-janji-Nya, dan kasih yang menciptakan kita serupa dengan Dia. Karunia dan rahmat itu dicurahkan kepada kita, memenuhi seluruh keberadaan kita. Dengan demikian kita mengarahkan seluruh perhatian kita kepada Dia, kemudian mengalami dalam kehadiran-Nya yang membahagiakan dan menggembirakan. Mengalami kontemplasi masuk serta tinggal dalam kontemplasi yang menghasilkan kebajikan-kebajikan iman, harapan, dan kasih.
Masuk dalam kontemplasi dapat digambarkan sebagai berikut: “Masuk dalam kontemplasi dimulai ketika Allah membangkitkan daya-daya batin manusia, dan puncaknya sampai pada perkawinan atau persatuan rohani,” atau “Aktivitas mistik adalah karya Allah, yang mengilahikan jiwa kita sesuai dengan kehendak-Nya.” Masuk dalam kontemplasi, sesuai dengan namanya, adalah karunia yang diberikan Allah. Pada saat itu, karunia Allah yang melimpah-limpah membawa jiwa secara pasif menerima di bawah kuasa-Nya dan jiwa mengalami dibawa oleh Allah pada keadaan yang tidak pernah dialami manusia sebelumnya. Pengalaman yang sama ketika St. Paulus dibawa sampai ke “surga ketiga.” Dengan kata lain, masuk dalam kontemplasi merupakan karunia Allah semata-mata, dan tidak pernah diduga-duga sebelumnya. Doanya diubah tetapi orang yang mengalaminya tidak diubah.
Jiwa yang melatih diri untuk mengalami kontemplasi, tidak memiliki rasa dibawa oleh Allah atau ditangkap oleh-Nya atau kuasa Allah membimbing dalam doanya. Mengalami kontemplasi adalah gelap; jiwa harus sabar menunggu dalam kegelapan; perhatiannya pada kehadiran Allah, menerima dalam keadaan tidak sadar sebagai jawaban dari kehadiran Allah itu. Mengalami kontemplasi dialami pendoa karena pendoa mulai berdoa, jiwa terus-menerus berdoa. Jiwa terdorong untuk berjuang mencapai tujuan yang dicita-citakan. Seperti yang dikatakan pengarang The Cloud of Unknowing ‘kerja’ si pendoa, jiwa mengalami kontemplasi melalui pengalaman doanya. Dalam kerja itulah, jiwa adalah pekerja. Ia merasa dirinya sebagai pemeran atau aktor, bukan Allah. Sebenarnya jiwa salah mengerti karena Allahlah yang bekerja di dalamnya, yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh pendoa tersebut.
Tanda-tanda Mengalami Kontemplasi
Apa yang menjadi tanda-tanda mengalami kontemplasi? Gambaran di bawah ini dapat digunakan:
1. Merasa dicintai oleh Allah,
Memandang Allah dengan penuh perhatian dan si pendoa berjuang keras untuk mencapainya. Akhirnya jiwa dapat memandang Allah dan mempersiapkan jiwa sampai pada tahap Beatific Vision (penglihatan yang membahagiakan). Apapun yang dilakukan si pendoa sungguh memandang dalam kegelapan bahwa Allah tersembunyi sekaligus sungguh hidup dalam dirinya. Ia sungguh-sungguh menyadari kehadiran Allah yang hidup daripada melihat dirinya sendiri.

2. Tidak adanya lagi kata-kata,
Juga, tidak adanya lagi percakapan yang terjadi adalah hening antara Allah dan jiwa. Ini merupakan tanda permulaan mengalami kontemplasi. Inilah permulaan doa batin yang merupakan ciri khas dimulainya hidup doa batin yang secara bertahap yang menarik pendoa semakin dalam dan semakin hening. Meditasi telah berhasil dan sampai pada kontempasi, tujuan pendoa telah diraih dan sekarang mengalami kebahagiaan adikodrati bahwa pengalaman ini membahagiakannya. Pengarang spiritualitas terus-menerus mengingatkan bagi si pendoa yang berkembang dalam doa batin untuk tidak mencari penghiburan-penghiburan di dalam doanya dan tidak menganggap ketidakmampuan untuk bermeditasi sebagai tanda tidak lagi dapat berdoa. Ini bukan suatu kemunduran, tetapi suatu perkembangan hidup doa, untuk itu jiwa harus semakin bertekun di dalam doa batin ini.

3. Tidak ada lagi campur tangan dari kemampuan panca indera yang lain.
Hilangnya atau menurunnya kemampuan panca indera dan daya-daya batin lainnya, seperti imajinasi dan ingatan, secara bertahap dengan berhentinya meditasi karena latihan-latihan rohani seperti “komposisi suatu tempat” dan pengertian dari misteri Kristus yang direnungkan pada umumnya. Meditasi itu sendiri adalah proses masuk ke dalam diri sendiri dengan menganalisa, mengumpulkan, menyimpulkan, dan mendekati kebenaran itu sendiri. Mengalami kontemplasi dialami ketika kita tidak lagi membutuhkan keyakinan dari diri kita sendiri tentang kebenaran itu sendiri. Kita tidak membutuhkan lagi pemeriksaan atau pemikiran. Apa yang kita butuhkan hanyalah memandang Dia dengan penuh kekaguman yang telah menciptakan kita.

Dalam pujian kepada Allah juga dapat menghasilkan kontemplasi. Kenapa? Pertama-tama, karena kita menemukan dalam kontemplasi suatu kebahagiaan adikodrati yang bersifat luhur dan mampu mengubah serta mengilahikan jiwa. Tahap-tahap dalam Lectio Divina yaitu Lectio, Meditatio, Oratio, dan Contemplatio (membaca, meditasi atau merenungkan, berdoa, dan kontemplasi) membawa kepada pertumbuhan hidup rohani, ketika kita berkembang dari tingkat yang satu ke tingkat yang lain. Jika kita dipengaruhi untuk melihat pengalaman kontemplasi hanya sebagai persiapan untuk masuk dalam kontemplasi, kita mungkin melihat bentuk pengalaman ini sebagai suatu yang tidak memuaskan dan mencoba terburu-buru untuk masuk dalam kontemplasi. Mungkin, ketidakpuasan dan ketidaksabaran ini membuat kita tidak menyadari akan nilai dari pengalaman kontemplasi itu sendiri yang dapat membawa kita berkembang dalam perjalanan rohani ini. Ini mungkin menjadi sebuah tragedi bagi kita yang merindukan sekali untuk berkembang dalam tahap doa ini, namun tidak pernah mengalaminya sendiri. Mengalami kontemplasi merupakan suatu rahmat istimewa yang disediakan Tuhan bagi kita semua yang merindukannya.

Selanjutnya, untuk sampai pada tahap doa ini harus disertai pula dengan perjuangan yang keras dari doa-doa yang kering dan kadang-kadang pikiran-pikiran yang menggoda. Kita akan mencapai kebenaran itu dengan berpikir dan pengertian yang mendalam sehingga mengalami rahmat istimewa dengan melepaskan keinginan-keinginan yang lain di luar tujuan itu. Kita harus berjuang melalui jalan yang benar, kebijaksanaan, dan kerja keras. Buah dari kerja keras ini harus menjadikan jiwa semakin bertekun dalam doa. Mencapainya dengan jalan merindukannya, dan kita harus mensyukuri rahmat itu. Meditasi adalah jalan yang umumnya digunakan untuk mencapai pada suatu kontemplasi. Dan setelah kita melaluinya, kita akan dapat beristirahat dalam kegembiraan dan kepenuhan rahmat.

Ekspansi
Ekspansi adalah tindakan aktif untuk memperluas dan memperbesar cakupan usaha yang telah ada. Contohnya pabrik indomie kita telah memproduksi indomie untuk kebutuhan nasional, karena pasar Asean masih terbuka, maka pabrik indomie tersebut melakukan ekspansi usahanya ke negara-negara Asean dengan membuka pabrik indomie baru guna memenuhi kebutuhan dari negara yang bersangkutan.

                                                                                                                    



Tidak ada komentar:

Posting Komentar